Persahabatan sejati terjalin bukan atas dasar hitung-hitungan untung rugi. Dasar dari persahabatan sejati adalah cinta kasih. Tentu bukan cinta kasih yang sifatnya erotik tapi cinta kasih yang penuh ketulusan atas dasar kemanusiaan. Ketulusan untuk saling memberi, bukan saling menuntut dan meminta. Tssaaahhhh…. dalem banget kayaknya… heuheuheu…. Nah menurut saya, salah satu ujian persahabatan adalah perbedaan yang terjadi diantara orang-orangnya. Kalau persahabatan masih terjalin hanya karena persamaan diantara orang-orangnya, apa istimewanya?

Saya bersahabat dengan pemilik bisnis Tamma Robah Indonesia sejak tahun 1999. Detail ceritanya bisa dibaca di postingan sebelumnya. Alhamdulillah sampai saat ini kami masih tetap bersahabat, walaupun saya dan sahabat saya ini berbeda pandangan dalam banyak hal. Mulai dari hal-hal yang berkaitan dengan bisnis hingga hal-hal yang berkaitan dengan masalah agama dan keyakinan.

Awal saya berkenalan dengan pencetus ide Kebab Sohib ini, saya sering diajak diskusi masalah agama. Mungkin karena dia tahu saya lulusan sebuah pesantren. Sedangkan sahabat saya ini lulusan sekolah umum.  Setelah terpisah cukup lama, kemudian kembali bertemu, saya cukup pangling dengan penampilannya. Penampilan sahabat saya lebih santri dibanding saya. Sangat berbeda dengan penampilannya dulu.

Selain penampilannya yang berubah, pemikirannya juga berubah. Sekarang sahabat saya lebih paham agama dibanding saya. Dia selalu berusaha mengaplikasikan nilai-nilai Islam secara kafah. Berdasarkan penampilan dan pemikirannya, saya menduga sahabat saya belajar agama kepada orang-orang yang berafiliasi dengan kelompok Islam tertentu. Kelompok Islam yang ingin menjalankan Islam yang murni. Saya hanya menduga dan tidak akan pernah bertanya langsung benar tidaknya dugaan saya ini.

Dalam hal pemahaman agama, saya pun mengalami banyak perubahan. Saya lahir dari keluarga muslim seperti pada umumnya di Indonesia. Kaum intelektual menyebutnya dengan istilah muslim tradisional atau muslim kultural. Pada saat SMA saya belajar di sebuah pesantren yang dikelola oleh para aktivis muslim yang bercita-cita menegakkan Islam yang kafah. Belajar di lingkungan seperti itu membuat semangat saya  menggebu-gebu dalam membela agama. Namun setelah saya keluar dari pesantren dan terjun di dunia bisnis, saya jadi lebih realistis.

Saat saya bangkrut dan terpuruk, entah kenapa saya tidak terlalu tertarik dengan motivator  maupun penceramah agama  yang ‘jualan’ rahasia kesuksesan. Justru saya banyak belajar kepada seseorang yang punya peluang untuk jadi ‘orang besar’ tapi justru memilih jadi orang biasa saja. Orang yang saya anggap sebagai guru saya ini pernah menjadi tokoh kunci saat peralihan kekuasaan dari Orde Baru ke Order Reformasi. Dengan karisma yang dimilikinya serta modal sejarah hidupnya, beliau bisa menjadi pembesar di negeri ini. Tapi beliau lebih memilih menemani orang-orang kecil di berbagai pelosok daerah. Acara pengajiannya sering didatangi ribuan orang, tapi beliau tidak mau kalau hanya berceramah satu arah. Beliau lebih suka memandu dialog untuk membahas berbagai permasalahan yang ada di masayrakat. Saat ini saya merasa tidak perlu menyebutkan nama orang yang saya ceritakan ini.

Saya dan sahabat saya memiliki banyak perbedaan pandangan karena  mungkin kita berdua belajar kepada orang  yang berbeda. Belajar kepada orang yang sama pun bisa berbeda pandangan karena perbedaan latar belakang dan perbedaan dalam menafsirkan hidup masing-masing. Pencarian makna hidup tiap orang tentu berbeda-beda. Saya tidak akan membahas lebih jauh lagi perbedaan antara saya dan sahabat saya. Intinya, perbedaan diantara kamai tidak akan membuat saya memutus persahabatan. Bagaimanapun hubungan saya dan sahabat saya nanti, insya Allah saya akan selalu mendooakan dan mendukunganya semampu saya.

Melalui media ini, saya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada sahabat saya karena saya belum bisa menjadi seperti yang diharapkannya. Saya membuat website ini tujuannya agar ide bisnis Kebab Sohib yang awalnya dari sahabat saya bisa menjadi proyek kebaikan yang berdampak manfaat untuk banyak orang. Mudah-mudahan saya dan sahabat saya bisa menjadi contoh, bahwa perbedaan jangan jadi pemutus persahabatan. Perbedaan juga jangan menjadi penghalang saat kita punya peluang untuk mewujudkan proyek kebaikan secara bersama-sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here